Filed under: Uncategorized
JAm sudah mulai berayun. Ia melangkah dari detik menuju menit sampai hour. Tetes hujan juga makin membuat basah dahan dan tanah yang menghampar. Tanah itu menuju kediaman Pap. Keningnya semakin mengernyit. Otaknya sudah berputar sedari tadi. Penyesalan pun semakin bercokol di sela-sela rasa sakit yang ada. Sakit hati pada dirinya sendiri, sakit hati pada perasaan yang timbul, dan semakin sakit ketika ketidaksesuaian muncul dengan respon yang tidak diharapkan kepadanya.
Pap selalu peka…. atau bahkan sensitif. Sebuah perasaan yang kata orang identik dengan wanita. Apakah wanita yang identik dengan temperamen melankolik? Sehingga dapat mempunyai perasaan ini? Yang jelas, Pap, seorang pria 20 tahun, memiliki perasaan ini sekarang.
Sebuah perenungaan menjadi ia bawa dalam tidur malam ini. Mungkin bintang tidak lagi jadi indah buatnya. Air mata meleleh di pipinya dengan tangis yang terasa ingin ia ledakkan semuanya. Perasaan Pap bertaut dengan kegeraman, kegundahan, kemarahan, kesedihan dan penyesalan. Sebuah rasa yang bercampur aduk, tak tahu harus bagaimana menyelesaikan apalagi menyebut.
“Pap! Kamu harus dewasa!”
“Pap! Berapa kali aku bilang, aku enggak suka kalau kamu Begitu!!! Kau selalu mengulanginya!!!!”
“Apa kamu ini kurang perhatian?!!”
“Sudah, Pap. Aku sudah bosen dengan kemarahanmu!!!”
“Pap! Lebih baik, kita enggak terlalu dekat lagi…..!!!”
Gaung kalimat yang diucapkan Gui memutari otaknya. Perasaan yang dirasakan oleh Gui dihempaskan bertubi-tubi kepadanya. Semua terasa menyakitkan dan mengiris-iris hatinya. Sebuah perasaan bersalah pun menaburi sekujur tubuhnya dengan sempurna. Pap menangis dan merasa sendiri.
Berkali-kali ia mengulangi sikapnya itu. Berkali-kali Pap marah pada Gui. Pap selalu saja merasa bahwa Gui, sahabatnya tidak perhatian, egois, tidak pernah mendengarkan kata-katanya dan berbagai hal yang terlalu mengikat Gui. Pap selalu merasa kurang dan kurang akan semua perhatian yang telah diberikan Gui kepadanya.
Pap bodoh.
Pap TIDAK TAHU DIRI.
PAP MENYEBALKAN.
Perasaan-perasaan bersalah itu menjadi kutukan terhadap dirinya. Betapa ia tidak pernah bersyukur memiliki sahabat seperti Gui.
Kini ia menjadi takut…. sangat takut kehilangan…. ia menjadi rikuh dan terus menerus menjadikan dirinya sendiri sebagai terdakwa sekaligus jaksa dan hakim. Ketakutan itu timbul, karena Pap merasa ia tidak akan punya sahabat seperti Gui lagi. Pap seorang introvert. Buatnya sangat sulit untuk bisa terbuka kepada semua orang. Jika selama ini ia selalu bercerita tentang semua perasannya kepada Gui dan Sing maka bagaimana nanti jika ia tidak memiliki mereka lagi. Pap tidak akan pernah bisa menggantikan kedua karibnya itu dengan siapapun. Pap tahu suatu saat nanti mereka tidak lagi bersama, tidak lagi bertiga. Jika waktu itu telah datang, Pap harus siap sendiri.
“Aku tidak terus selalu ada bersamamu, Pap. Aku akan pergi nanti… dan ketika aku pergi, aku tidak ingin menjadi beban siapapun. Karena itu, aku ingin kau menyiapkan dirimu. Aku ingin kau tidak selalu bergantung padaku. Bukalah dirimu untuk orang lain…”
“Enggak bisa, Gui. Aku tidak bisa….”
Pap semakin menangis dan merasa dirinya menjadi sangat rapuh. Beban itu terasa berat. Ia sangat menyayangi Gui, sahabatnya. Pap sangat tidak ingin kehilangan. Saat ini Pap tahu, Gui sangat jengkel kepadanya. Gui begitu geram bahkan BOSAN dengan amarah-amarah Pap kepadanya yang tidak jelas. Pap takut, bahkan Gui akan terlalu cepat meninggalkannya.
Kalimat dan sikap Gui pun menjadi kurang akrab lagi. Setidaknya, itu yang dirasakan oleh Pap (dan semoga saja itu tak benar, bagi Pap). Pap tahu, mungkin Gui menjadi sangat trauma, jangan-jangan nanti Pap marah dan tersinggung dengan sikap atau kata-katanya. Gui selalu merasa kalau ia harus berhati-hati dengan sahabatnya yang super duper sensitif ini.
Pap terus menyudut di sisi ranjangnya. Ia menangis dan terus menangis… ia ingin menghempas sepi dengan kesendirian yang membosankan. Tanpa Sing di sisinya, tanpa Gui bersamanya. Ini yang dibenci oleh Pap. (*AKU TAKUT….. SANGAT TAKUT…. :’-)
Filed under: Uncategorized
Pap menghentakkan langkah melepas geram. Ia pungut lagi telepon selular yang sudah ia banting di atas ranjang tadi. Cowok kurus ini merebahkan tubuh. Antara kekalutan, bingung dan marah hanya beda tipis. Semua itu diaduk dalam jiwa yang kosong tanpa sukacita. Kini mata Pap memerah dan berkaca. Sembab. Dia menangis.
* * *
“Lihatlah!” Gui memperlihatkan pesan selularnya pada Sing.
“Terlalu sensitif kan, Sing?”
“Memang,…. Kadang itu menjengkelkan” Sing memperhatikan setiap kata yang pasti ada makna tersirat dalam pesan itu.
“Seenaknya saja! Dia terlalu egois.” Kejengkelan Gui terluap begitu saja.
“Gui, tapi dia butuh untuk dimengerti…” Sing menerawang jauh.
“Terus sampai kapan? Tidak ada satu pun yang mau mengerti dia. Kalau dia itu terlalu sensitif seperti itu?!!”
“Kenapa tidak kita telepon saja…”
“Percuma! Pap lagi jengkel. Tidak akan ada akal sehat.”
Kabut bertengger dengan pekatnya. Hitam. Bertengger di atas kesalahpahaman, menembus batas hati dan menjadi kegeraman. Seolah gagak berparuh jelek ada bersama situasi dan kondisi ini untuk menguasainya.
“Gui, kita harus mengingat, hal apa yang membuat Pap uring-uringan gitu??”
“Kenapa kita yang selalu jadi korban saat Pap murka?”
Sing terus memutar otak, tidak mengindahkan kalimat protes Gui yang terlontar. Alunan musik melo mengiring begitu saja, meski tidak sengaja diputar Gui melalui compactdisc-nya.
* * *
Sore ini begitu hampa bagi Pap. Semburat air mata telah membuat alas kepalanya menjadi basah. Pap tidak se-ceria biasa. Kalau sudah begini temperamen sanguin-nya bersembuyi jauh di balik sisi melankolis. Ia merasa sendiri dan kesepian. Tulang belulangnya kering tanpa seringai senyum.
Kalau boleh jujur, sebenarnya Pap sekarang masih mencari apa yang membuatnya murka. Ketidakhadiran Gui saat Pap menerima penghargaan di kampus atau sebab muasal lainnya, kah?
Memori Pap ia layangkan lagi pada kejadian tadi siang………..
Ia menerima penghargaan kampus karena berhasil meluncurkan buku tulisannya sendiri berjudul “True Story at University”. Sing hadir tanpa Gui karena mendadak tidak bisa. Ini acara penting buat Pap. Baginya, Gui dan Sing termasuk orang penting di hidupnya yang harus datang.
Alasaan Gui adalah: ia harus menyelesaikan tugas penelitiannya karena harus ada evaluasi pada esok hari.
Argumen Pap: kenapa tidak dari kemarin ia kerjakan? Kenapa pada saat acara penting yang harus ia hadiri, ia gunakan untuk mengerjakan itu?
Pap merenung lagi…….
Apa memang Gui yang salah atau ia yang terlalu egois?
Konflik batinnya terus bergaung. Ada keinginan untuk meminta maaf pada Gui atas ke-egoisannya.
……………………..
Namun hati Pap juga masih teriiris. Di saat ia begitu rapuh, sahabat yang dia sayangi menyakiti dirinya. Oh, tidak! Pap buru-buru menghapus kata ‘menyakiti’. Gui tidak salah. Ia hanya terlalu ‘merasa’.
* * *
Murka itu sedikit demi sedikit mulai surut. Meski rasa sakit hatinya belum selesai karena luka itu masih ada. Pap beranjak dari ranjang hendak meraih telepon. Namun ia urungkan kembali niatnya untuk menghubungi Gui. Ada satu hal yang membuatnya tersentak. Pikirnya melayang dan teringat satu momen yang ternyata membuat Pap benar-benar terluka.
Ia berusaha melupakan. Namun terlalu pahit. Ternyata hal ini yang membuat Pap uring-uringan. Bukan ketidakhadiran Gui semata. Seseorang yang telah memikat hatinya, membuat dia gundah gulana. Seseorang yang telah ia tempatkan dalam hatinya dengan spesial.
“Bio, kenapa engkau memalingkan dirimu padaku?”
Meleleh pula air mata Pap bebarengan dengan kalimat yang baru ia ucapkan. Kekecewaan tersirat sungguh dalam. Kekecewaan pada sikap gadis yang ia cintai. Perasaan itu yang selama ini ia tutupi dengan sedikit kesalahan Gui.
* * *
“Kami mengerti perasaanmu….”
Pap memeluk kedua sahabat yang telah ia jadikan saudara ini.
“Terima kasih Gui, terima kasih, Sing.”
Gui hanya menatap Pap.
“Pap, kamu tidak boleh memaksakan perasaan Bio padamu. Aku tahu, begitu dalam cintamu kepadanya. Namun engkau harus sabar,…”
Sing mengajukan advice.
“Iya. Aku bisa menerima itu. Hanya saja, aku begitu sakit hati. Kini rasanya ia menjauhiku.”
“Sabarlah, brother.”
Pap tertunduk lesu. Matanya sayu.
“Aku minta maaf tidak datang pada acara penghargaan itu, Pap.”
Gui menyodorkan tangan kanannya.
“Sudahlah, Gui. Aku hanya membohongi diriku dengan marah padamu. Seharusnya Aku yang meminta maaf, karena mengkambing hitamkan-mu..”
“Aku tidak mau jadi kambing hitam.”
“Iya. Maafkan aku.”
“Tidak.”
“Maksudmu?”
“Aku mau jadi domba putih saja.”
Ah, Gui. Di saat seperti ini, bisa saja bercanda. Ia mencoba menyegarkan suasana.
“Bukannya kamu monyet? Kok ngaku-ngaku domba putih?”
“ha… ha……”
Kini ketiganya saling mengejek dan tergelak sendiri. Tawa itu menghiburkan Pap.
* * *
“Pap, aku mau cerita, nih.”
“Aku dengarkan, Bio.”
Bio mengalunkan curahan hatinya mengenai teman-teman kampus.
Sementara Pap heran. Tidak biasanya setelah beberapa minggu terakhir, Bio kembali membuka dirinya.
‘Tuhan, dekatkan aku terus dengan Bio. Sungguh dalam cintaku padanya. Suatu saat aku akan berani ungkapkan ini….’
Pap membisikkan itu pada Tuhan. Lirih sekali, dalam sudut hatinya.
(*my beloved. Luv u
Filed under: Uncategorized
“Aku sudah buat Li sedih.”
Gui mengutarakan isi hatinya pada Pap.
Hanya gelengan kepala Pap yang merespon Gui.
“Kamu betul, Pap. Aku mengulangi kesalahan yang sama.”
“Lupa menelpon, tidak balas SMS,…. Yah! You did it,… AGAIN.”
“Tapi kali ini aku memang benar-benar telah lelah sekali. Banyak tugas yang aku kerjakan, aku pulang malam dan berangkat pagi terus, Pap.”
“Yes. I know, brother…”
“Kamu tahu kan, Pap. Bukan berarti aku tidak mencintai Li lagi, kan?”
Pap hanya diam. Ia menyediakan telinga bagi keluh kesah Gui. Seperti yang selalu dilakukan brother–nya ini padanya.
* * *
“Gui terlalu cuek, Pap.”
“Wanita memang butuh diperhatikan terus…”
“Huh! Enak saja. Para pria juga tak akan sanggup hidup tanpa wanita.”
Pap mengekeh mendengar pembelaan Sing. Seperti pembela wanita sejati saja.
“Gui sudah cerita, Sing. Ia banyak tugas dan pulang malam terus.”
“Li juga sudah e-mail aku. Ia sangat merindukan Gui. Bayangkan, Pap : Sudah 2 minggu e-mail Li tidak dibalas Gui.”
Pap hanya mengangkat bahu. Sebenarnya keduanya memang sama-sama tahu watak Gui. Ia tidak akan bisa melepaskan Li, kekasihnya. Cintanya begitu dalam. Namun kebiasaan Gui untuk menyepelekan hal kecil itulah yang tidak pernah bisa dimengerti oleh kedua sobatnya ini. Mengapa Gui tidak berusaha untuk merubah? Pikir Pap dan Sing.
“….menurutku, mengirim e-mail untuk seseorang yang ia cintai bukan hal kecil. Apalagi mereka harus berpacaran jarak jauh???”
“Aku mengerti perasaan Gui, namun aku akan mencoba mengerti perasaan para wanita juga.”
Kalau sudah begini Pap akan kebingungan sendiri. Sing tentu akan membela Li, karena ia pasti tahu betul perasaannya sebagai seorang wanita. Sedangkan Pap juga tahu perasan Gui. Namun ia juga sadar kalau Gui salah. Meski begitu ia tak mau menuding Gui salah.
“Aduh bingung aku, Sing!!”
Sekarang Sing yang menggelengkan kepala melihat sikap Pap.
* * *
Sodokan Gui begitu mantap. Bola Bilyard itu satu per satu menghampiri lubang-lubang meja. Gui menguasai permainan malam ini. Namun ia tidak bisa menguasai hatinya. Ia masih memikirkan cara meminta maaf pada Li untuk kesalahan yang telah diperbuatnya.
“Permainanmu HEBAT, Gui!”
Sanjungan itu hanya dibalas dengan senyuman oleh Gui.
“Ini minuman soda untukmu, karena kau menang.”
“Ambil kembali saja. Aku sedang tidak berminat.”
“Mau kemana, kau?”
“Pulang. Aku lelah sekali.”
“Haa..ha…. Masa main 3 jam saja lelah?”
Ejekan atau tantangan, itu tak penting lagi buat Gui. Ia ingin segera melesat pulang ke rumah menghampiri ranjangnya dan menelpon Tuhan.
* * *
“Engkau tahu usaha-ku kan, Tuhan? Usahaku untuk mempertahankan hubunganku dengan Li….”
Ia duduk dengan tangan melipat dan guling yang mengalasi kedua sikunya. Beginilah cara Gui menelpon Tuhan. Ia tutup mata rapat-rapat. Buka hati lebar-lebar. Mencurahkan semua keluhnya pada Tuhan. Sebuah kekesalan yang terjadi akibat dirinya sendiri.
“Ya. Ya. Aku tahu. Bukan usahaku, Tuhan. Tetapi anugerah-MU yang luar biasa. Bukan sebuah kebetulan kalau aku bisa menjejakkan kakiku di tanah Ratu Elizabeth tahun lalu. Aku bisa bertemu Li dan mendekapnya erat-erat.”
Terlintas pada memorinya beberapa saat. Li memandang wajah Gui dalam-dalam kala itu. Kala mereka dapat hadiah untuk bertemu tahun lalu.
“Tuhan, kenapa Li sampai sekarang belum pulang dari Inggris?”
“Kenapa, Engkau memberikanku hubungan yang seperti ini? Long distance. OH, GOD! Kenapa tidak biasa-biasa saja seperti pasangan-pasangan yang lain? Tidak terpisah benua dan samudera.”
Kali ini Gui benar-benar terdiam. Ia mendekap gulingnya erat-erat. Gui berusaha merenungkan kembali protes yang baru ia layangkan pada Sang Khalik. Apa benar Tuhan itu tidak adil padanya? Apa benar hadiah ke Inggris tahun lalu itu malah membuatnya kecewa?
Ia terus diam. Hanya diam. Sampai pada satu titik.
“Oh, Tuhan…….. Sebenarnya anak-Mu ini sungguh beruntung. Aku cabut kembali kata-kataku tadi. Sampai detik ini aku masih punya hubungan baik dengan Li, ini adalah luar biasa. Engkau sendiri yang telah memeliharanya. Aku jadi lebih spesial karena tidak banyak pasangan yang kuat dengan hubungan ‘long distance’. Tetapi Engkau buat aku untuk terus setia dengan Li begitu pula dia, Tuhan. Engkau LUAR BIASA…….!!!! Thank YOU”
Gui menutup telponnya dengan Tuhan. Ia tidur dengan perasaan lega.
* * *
Mentari tidak lagi berkacamata hitam hari ini. Sinarnya cerah dan teriknya hangat. Semilir angin pun mengiring Gui memasuki mobilnya. Ia melajukan keluar dari halaman rumah. Gui memberikan senyum kepada dirinya sendiri di depan kaca. Semua menyiratkan kebahagiaan, sebuah rasa syukur yang tak terkira.
Musik sukacita seakan berdentum keras di dalam mobil bermuatan 5 orang ini. Belum lagi suara Gui yang mengikuti nada-nada. Seakan jok mobil, AC, CD Player dan semua perangkat turut menari. Tarian hati yang bahagia bagi Gui hari ini.
“Orang yang lahir 1000 tahun sekali telah datang…!”
Pap dan Sing menengadahkan kepala. Seringai senyum hampir mendekati tawa lebar mereka lihat dalam guratan wajah Gui.
“Wow! Praise the Lord!”
Kali ini Pap dan Sing saling berpandangan.
Bukan tidak mungkin seorang Gui seceria hari ini. Namun kini ia memuji-muji Nama Tuhan. Tampaknya pergumulan Gui dengan masalah itu telah usai. Yup! Itulah hasil pemikiran Pap dan Sing.
“Monyet bodoh, kau ceria sekallii hari ini!”
“Tentu saja, burung Pelikan!”
Wah, ajang saling mengejek mulai berlangsung antara Gui dan Pap. Sementara Sing kembali menikmati bebek goreng yang sempat ia tinggalkan saat Gui datang. Bagi Sing ia turut saja saat sobatnya bersukacita.
“Sudah baik hubunganmu dengan Li?”
“Menurutmu, Sing?”
“I think so.”
“Pasti Li yang mengalah. Ia e-mail kamu dulu, kan?” ejek Pap.
“Enak saja. Kalau soal ‘cinta’, serahkan pada Gui! Anak…..”
“….seribu tahun sekali lahirnya….”
Pap dan Sing sudah tahu kelanjutan kalimat Gui. Ia selalu menyebut dirinya demikian. Bangga pada diri sendiri sih, boleh. Tetapi bagaimana menurut kalian jika manusia ini menyebut diri lahir seribu tahun sekali?
“Yang jelas aku : BERSYUKUR. Ini LUAR BIASA…!!!!”
Semangat menyala-nyala tersirat di wajah Gui. Ia menceritakan panjang lebar apa yang telah ia alami. Penyesalannya, telponnya dengan Tuhan sampai bagaimana ia mensyukuri sesuatu yang Luar Biasa yang telah ia terima dan syukuri.
“Bagus! Omong-omong berapa nomor telpon Tuhan? Aku mau dong….”
“Lipatlah tanganmu, pejamkan matamu, katakan apa yang kau syukuri dan apa yang kau rasakan dalam hati. Tuhan begitu mencintaimu…”
Cinta yang dari Tuhanlah yang membuat Gui bersemangat. Cinta itu mengalir sampai ke jiwa dan memberikan sentuhan persaudaraan pada persahabatan mereka. Cinta Tuhan yang luar biasa! Cinta sejati itu yang mendasari hubungan Gui dan Li hingga hari ini. Sebuah rasa syukur yang tak lekang oleh waktu. (Remember: that the Lord is WONDERFULL for you*)
Filed under: Uncategorized
“Haaa…?!!” mata Pap terbelalak mendengar cerita Sing.
“Kamu aja kaget, apalagi aku?” Sing menggeleng sambil memencet bel rumah Gui. Sesaat perempuan tengah baya keluar dan keduanya dipersilahkan masuk.
Pap terbahak-bahak ketika membuka kamar Gui. Cowok jabrik ini memandanginya dengan aneh. Sing, gadis kuning langsat itu terduduk di kursi belajar Gui.
“Hem…! Ada yang lucu?” tanya Gui sambil melanjutkan permainan Playstation-nya.
“Gui! Sing dapat jatah para tetua?”
“LAGI?!?!” Gui terhentak.
Kini kedua cowok ini terbahak.
“HUH?! Apa aku lakunya cuman di pasar para tetua, ya?”
Gui dan Pap makin terbahak melihat ekspresi melo Sing. Kali ini dia mencibir.
* * *
Mentari pagi ini tidak bersahabat. Mendung juga meliputi ketiga karib; Sing, Pap dan Gui. Di bawah sepoi angin mereka duduk makan dan berdiskusi.
“Aku mengerti kok, keadaanmu. Tetapi, bagaimanapun kamu punya hak untuk memilih yang terbaik.” Pap memberi saran.
Kini Sing merenung. Dilema besar meliputi hati dan bertaut terus dalam dirinya. Sudah berkali-kali ia didekati para lelaki yang selalu jauh lebih tua usianya darinya. Berkali-kali dan kini terulang lagi setelah sebelumnya ia menolak semua. Sebenarnya mudah kalau menerima pinangan para pria berumur itu. Namun, ia sudah kadung janji pada orang tuanya untuk tidak menjalin hubungan dulu dengan pria manapun sampai kuliahnya kelar.
“Sing. Kamu punya perasaan gak sama Ardi?” pertanyaan Gui dalam.
“Entah.” Keraguan Sing memberi jawab.
Ardi. Sepuluh tahun usianya lebih tua dari Sing. Meski ia baik, namun usia tetap jadi soal. Ardi pasti sudah berpikir mengenai pernikahan dan keluarga. Sedang Sing masih 20 tahun. Lulus Sarjana dan melanjutkan gelar Master, itu impian yang harus ia wujudkan.
“Apapun pilihanmu, kami akan mendukung. Kami yakin kamu akan memikirkan masak sebelum mengambil keputusan.” dukungan Gui benar-benar membuat Sing kuat.
* * *
Sing berjalan mantab. Pandanganya menerawang jauh dan keputusan bulat sudah ia genggam. Mungkin rasa tidak ingin membuat kedua ortu-nya kecewa lebih besar ketimbang keinginannnya untuk berpacaran. Hari inilah saat yang tepat untuk memberi pertimbangan kepada Ardi.
“Hai!” sapaan pria berbadan tegap itu membuat Sing sedikit ragu.
“Tahu enggak? Hari ini aku sibuuuk…. Pegawai-pegawaiku semua kuberi tugas….” Ardi terus bercerita mengenai job-nya. Namun Sing tidak tenggelam sama sekali.
Di dalam hati Sing terasa kecut. Ia tidak ingin membuat Ardi kecewa.
“Ardi…” Sing memberanikan mengawali kalimat.
“Ya? Mau makan apa, gadis cilik?” ia masih mengekeh.
“Sebenarnya kita hanya teman, kan?” Sing mencoba menatap mata Ardi.
“Lalu?”
“Yah… Kita… hanya TEMAN, kan?” Sing mempertegas.
“Jadi, kamu sudah memutuskan kalau…” Ardi langsung jadi serius.
Kali ini Sing jadi sungkan bukan main.
“Itu keputusanmu, Sing?”
Sing mengangguk pelan dan sepertinya Ardi dapat memahami itu.
* * *
“Kamu yakin kalu Ardi bisa paham, Sing?” Pap mencoba menelusuri.
“Aku sudah jelasin semua, Pap.”
Gui hanya diam sambil menikmati pudding di tangannya.
“Yes! Sekarang kamu bisa bebas… ha.ha..ha….” Pap meloncat girang.
“Berlebihan, Pap!” Gui geleng-geleng kepala melirik tingkah kawan karibnya itu.
“Aku cuman seneng aja. Mulai sekarang wajahmu akan kembali bersinar, Sing. Tidak penuh beban…” teriak Pap sambil merebut pudding di tangan Gui.
“Hei, puddingku!”
“Minta dikit.”
“Enak aja! Kembalikan pudding-ku..”
Sing kini tertawa melihat kedua cowok itu. Selalu saja bertengkar…
Pap benar. Begitu pikir Sing. Kini ia tidak perlu takut lagi setiap saat. Sebenarnya bukan Sing saja yang didekati oleh Ardi. Teman kuliahnya; Wati, Far, Suni dan Dyah juga. Ardi mengakui semua pada Sing tapi tidak kepada keempaat cewek itu. Sing juga tak tahu, kenapa Ardi begitu jujur kepadanya.
“Yang benar saja?! Bukan pria baik-baik itu namanya?!” Gui naik pitam kala itu.
“Kalau mendekati wanita, yang konsisten dong! Masa kelima-limanya?! Itu namanya cowok pengecut!!!” protes Pap tak kalah tajamnya saat Sing bercerita kepada kedua karibnya waktu itu.
Sing kini menghela napas sambil meneruskan lamunannya. Masa-masa saat ia masih didekati Ardi. Sebenarnya ia pria baik-baik. (Sing selalu membelanya).
Ia paham, kalau Ardi melakukan itu karena ia ingin segera mempunyai pendamping. Sing juga tak tahu kebetulan saja cewek-cewek yang didekati Ardi sekampus dengan dia. Keempatnya jauh lebih cantik, lebih popular dan lebih yang lain-lain jika dibanding dengan dirinya. Begitu pikir Sing.
Wati. Mahasiswi semester akhir ini cerdas dan berprestasi.
Far. Model catwalk yang jadi idola.
Suni. Gadis keturunan India yang jago menari dan menyanyi.
Dyah. Cantik dan sexy.
Fiuh….
Sementara dirinya? Kurus ceking. Pendek. Tidak menarik. Baru dua puluh tahun. Ingusan.
Menurut Ardi, Sing berbeda dari gadis-gadis yang lain. Ia idealis, tegas dan punya pendirian kuat. Sing selalu ramah kepada semua orang dan perhatian. Satu lagi, persahabatan Sing dengan kedua cowok yang tak kalah ingusan; Gui dan Pap. Ini yang bikin iri Ardi. Ketiganya selalu kompak, saling berbagi, saling mengolok, saling mengejek dan tertawa tiada henti. Masa-masa ingusan yang membuat Ardi sangat terkesan.
Pernah Ardi jalan-jalan bareng mereka. Alhasil ia tak berhenti tertawa karena Pap dan Gui terus bertengkar dan mengolok. Sing pun selalu menggoda keduanya. Namun Sing merasa, Ardi hanya menjadi penonton dan tidak bisa masuk dalam komunitas itu.
Namun kini Sing memang harus benar-benar berpikir seribu kali lipat kalau menerima cinta Ardi. Ia belum siap untuk berpikir tentang keluarga dan perkawinan. Meski Ardi mau menunggu Sing jadi Sarjana dan juga selesai gelar S2.
“Seperti Edi sud dan Itje Trisnawati, dong?” goda Pap pada Sing dulu.
Sing tertawa kecil. Kini ia juga jadi ingat pria-pria lain yang pernah mendekatinya.
Sam. 7 tahun lebih tua. Insinyur muda yang baru meniti karier.
Rudi. 9 tahun di atas usia Sing. Pegawai swasta, menaruh hati yang dalam pada Sing.
Tarjo. 32 tahun. Bujang lapuk yang iseng. Tentu Sing menolak mentah-mentah.
David. 28 tahun. Sing begitu tergila-gila padanya. Tapi, David dingin-dingin saja.
Martin. 24 tahun. Sing sempat menjalin kasih dengannya. Mereka harus putus di bulan kedua belas, karena pacaran ‘backstreet’ mereka ketahuan ortu Sing.
Fiuh….
Sing menghela napas lagi. Mengapa semua cowok itu tidak ada yang pas buatnya. Ia begitu merindukan seorang kekasih impian. Entah se-usia atau …. Oh, tidak?! Apakah harus yang lebih tua lagi? Gumam Sing.
“Sing…..!!!” teriakan Pap membuat ia terbangun dari lamunan.
“Ada Ivan di bawah…” Gui melanjutkan.
“Kok dia tahu rumahmu, Gui?”
Sing lalu melesat turun ke ruang tamu rumah Gui.
* * *
“Haloo..” sapa Ivan.
Keduanya ngobrol panjang lebar selama sejam. Memang mereka telah lama kenal karena Ivan adalah teman kakak Sing.
“Sing, boleh aku jadi kekasihmu?” pernyataan Ivan yang tiba-tiba itu membelalakkan mata Sing.
“Gui……! Pap…..! Apa aku Cuma laku di pasar para tetua?!?!” teriak Sing pada kedua karibnya. Pap dan Gui terpingkal-pingkal melihat Sing merengek.
(*never ending our frenZhip; thx BiKan & Nyet)
Filed under: Uncategorized
Sebuah karya dari
kedalaman hati….
Sebuah anugerah
yang melimpah
dalam indah sanubari,
Ada kerinduan
dalam
Cinta,
Ini mengiring
kereta kebahagiaan
yang baru saja diberangkatkan
dari stasiun hati.
Filed under: Uncategorized
Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!