Pap Gui Sing Stories


DEPRESI
September 12, 2008, 2:02 am
Filed under: Uncategorized

 

 

JAm sudah mulai berayun. Ia melangkah dari detik menuju menit sampai hour. Tetes hujan juga makin membuat basah dahan dan tanah yang menghampar. Tanah itu menuju kediaman Pap. Keningnya semakin mengernyit. Otaknya sudah berputar sedari tadi. Penyesalan pun semakin bercokol di sela-sela rasa sakit yang ada. Sakit hati pada dirinya sendiri, sakit hati pada perasaan yang timbul, dan semakin sakit ketika ketidaksesuaian muncul dengan respon yang tidak diharapkan kepadanya.

Pap selalu peka…. atau bahkan sensitif. Sebuah perasaan yang kata orang identik dengan wanita. Apakah wanita yang identik dengan temperamen melankolik? Sehingga dapat mempunyai perasaan ini? Yang jelas, Pap, seorang pria 20 tahun, memiliki perasaan ini sekarang.

Sebuah perenungaan menjadi ia bawa dalam tidur malam ini. Mungkin bintang tidak lagi jadi indah buatnya.  Air mata meleleh di pipinya dengan tangis yang terasa ingin ia ledakkan semuanya. Perasaan Pap bertaut dengan kegeraman, kegundahan, kemarahan, kesedihan dan penyesalan. Sebuah rasa yang bercampur aduk, tak tahu harus bagaimana menyelesaikan apalagi menyebut.

“Pap! Kamu harus dewasa!”

“Pap! Berapa kali aku bilang, aku enggak suka kalau kamu Begitu!!! Kau selalu mengulanginya!!!!”

“Apa kamu ini kurang perhatian?!!”

“Sudah, Pap. Aku sudah bosen dengan kemarahanmu!!!”

 “Pap! Lebih baik, kita enggak terlalu dekat lagi…..!!!”

Gaung kalimat yang diucapkan Gui memutari otaknya. Perasaan yang dirasakan oleh Gui dihempaskan bertubi-tubi kepadanya. Semua terasa menyakitkan dan mengiris-iris hatinya. Sebuah perasaan bersalah pun menaburi sekujur tubuhnya dengan sempurna. Pap menangis dan merasa sendiri.

Berkali-kali ia mengulangi sikapnya itu. Berkali-kali Pap marah pada Gui. Pap selalu saja merasa bahwa Gui, sahabatnya tidak perhatian, egois, tidak pernah mendengarkan kata-katanya dan berbagai hal yang terlalu mengikat Gui. Pap selalu merasa kurang dan kurang akan semua perhatian yang telah diberikan Gui kepadanya.

Pap bodoh.

Pap TIDAK TAHU DIRI.

PAP MENYEBALKAN.

Perasaan-perasaan bersalah itu menjadi kutukan terhadap dirinya. Betapa ia tidak pernah bersyukur memiliki sahabat seperti Gui.

Kini ia menjadi takut…. sangat takut kehilangan…. ia menjadi rikuh dan terus menerus menjadikan dirinya sendiri sebagai terdakwa sekaligus jaksa dan hakim. Ketakutan itu timbul, karena Pap merasa ia tidak akan punya sahabat seperti Gui lagi. Pap seorang introvert. Buatnya sangat sulit untuk bisa terbuka kepada semua orang. Jika selama ini ia selalu bercerita tentang semua perasannya kepada Gui dan Sing maka bagaimana nanti jika ia tidak memiliki mereka lagi. Pap tidak akan pernah bisa menggantikan kedua karibnya itu dengan siapapun. Pap tahu suatu saat nanti mereka tidak lagi bersama, tidak lagi bertiga. Jika waktu itu telah datang, Pap harus siap sendiri.

“Aku tidak terus selalu ada bersamamu, Pap. Aku akan pergi nanti… dan ketika aku pergi, aku tidak ingin menjadi beban siapapun. Karena itu, aku ingin kau menyiapkan dirimu. Aku ingin kau tidak selalu bergantung padaku. Bukalah dirimu untuk orang lain…”

“Enggak bisa, Gui. Aku tidak bisa….”

Pap semakin menangis dan merasa dirinya menjadi sangat rapuh. Beban itu terasa berat. Ia sangat menyayangi Gui, sahabatnya. Pap sangat tidak ingin kehilangan. Saat ini Pap tahu, Gui sangat jengkel kepadanya. Gui begitu geram bahkan BOSAN dengan amarah-amarah Pap kepadanya yang tidak jelas. Pap takut, bahkan Gui akan terlalu cepat meninggalkannya.

Kalimat dan sikap Gui pun menjadi kurang akrab lagi. Setidaknya, itu yang dirasakan oleh Pap (dan semoga saja itu tak benar, bagi Pap). Pap tahu, mungkin Gui menjadi sangat trauma, jangan-jangan nanti Pap marah dan tersinggung dengan sikap atau kata-katanya. Gui selalu merasa kalau ia harus berhati-hati dengan sahabatnya yang super duper sensitif ini.

Pap terus menyudut di sisi ranjangnya. Ia menangis dan terus menangis… ia ingin menghempas sepi dengan kesendirian yang membosankan. Tanpa Sing di sisinya, tanpa Gui bersamanya. Ini yang dibenci oleh Pap. (*AKU TAKUT….. SANGAT TAKUT…. :’-)

 

Advertisement

Leave a Comment so far
Leave a comment



Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s



Follow

Get every new post delivered to your Inbox.