Filed under: Uncategorized
Pap menghentakkan langkah melepas geram. Ia pungut lagi telepon selular yang sudah ia banting di atas ranjang tadi. Cowok kurus ini merebahkan tubuh. Antara kekalutan, bingung dan marah hanya beda tipis. Semua itu diaduk dalam jiwa yang kosong tanpa sukacita. Kini mata Pap memerah dan berkaca. Sembab. Dia menangis.
* * *
“Lihatlah!” Gui memperlihatkan pesan selularnya pada Sing.
“Terlalu sensitif kan, Sing?”
“Memang,…. Kadang itu menjengkelkan” Sing memperhatikan setiap kata yang pasti ada makna tersirat dalam pesan itu.
“Seenaknya saja! Dia terlalu egois.” Kejengkelan Gui terluap begitu saja.
“Gui, tapi dia butuh untuk dimengerti…” Sing menerawang jauh.
“Terus sampai kapan? Tidak ada satu pun yang mau mengerti dia. Kalau dia itu terlalu sensitif seperti itu?!!”
“Kenapa tidak kita telepon saja…”
“Percuma! Pap lagi jengkel. Tidak akan ada akal sehat.”
Kabut bertengger dengan pekatnya. Hitam. Bertengger di atas kesalahpahaman, menembus batas hati dan menjadi kegeraman. Seolah gagak berparuh jelek ada bersama situasi dan kondisi ini untuk menguasainya.
“Gui, kita harus mengingat, hal apa yang membuat Pap uring-uringan gitu??”
“Kenapa kita yang selalu jadi korban saat Pap murka?”
Sing terus memutar otak, tidak mengindahkan kalimat protes Gui yang terlontar. Alunan musik melo mengiring begitu saja, meski tidak sengaja diputar Gui melalui compactdisc-nya.
* * *
Sore ini begitu hampa bagi Pap. Semburat air mata telah membuat alas kepalanya menjadi basah. Pap tidak se-ceria biasa. Kalau sudah begini temperamen sanguin-nya bersembuyi jauh di balik sisi melankolis. Ia merasa sendiri dan kesepian. Tulang belulangnya kering tanpa seringai senyum.
Kalau boleh jujur, sebenarnya Pap sekarang masih mencari apa yang membuatnya murka. Ketidakhadiran Gui saat Pap menerima penghargaan di kampus atau sebab muasal lainnya, kah?
Memori Pap ia layangkan lagi pada kejadian tadi siang………..
Ia menerima penghargaan kampus karena berhasil meluncurkan buku tulisannya sendiri berjudul “True Story at University”. Sing hadir tanpa Gui karena mendadak tidak bisa. Ini acara penting buat Pap. Baginya, Gui dan Sing termasuk orang penting di hidupnya yang harus datang.
Alasaan Gui adalah: ia harus menyelesaikan tugas penelitiannya karena harus ada evaluasi pada esok hari.
Argumen Pap: kenapa tidak dari kemarin ia kerjakan? Kenapa pada saat acara penting yang harus ia hadiri, ia gunakan untuk mengerjakan itu?
Pap merenung lagi…….
Apa memang Gui yang salah atau ia yang terlalu egois?
Konflik batinnya terus bergaung. Ada keinginan untuk meminta maaf pada Gui atas ke-egoisannya.
……………………..
Namun hati Pap juga masih teriiris. Di saat ia begitu rapuh, sahabat yang dia sayangi menyakiti dirinya. Oh, tidak! Pap buru-buru menghapus kata ‘menyakiti’. Gui tidak salah. Ia hanya terlalu ‘merasa’.
* * *
Murka itu sedikit demi sedikit mulai surut. Meski rasa sakit hatinya belum selesai karena luka itu masih ada. Pap beranjak dari ranjang hendak meraih telepon. Namun ia urungkan kembali niatnya untuk menghubungi Gui. Ada satu hal yang membuatnya tersentak. Pikirnya melayang dan teringat satu momen yang ternyata membuat Pap benar-benar terluka.
Ia berusaha melupakan. Namun terlalu pahit. Ternyata hal ini yang membuat Pap uring-uringan. Bukan ketidakhadiran Gui semata. Seseorang yang telah memikat hatinya, membuat dia gundah gulana. Seseorang yang telah ia tempatkan dalam hatinya dengan spesial.
“Bio, kenapa engkau memalingkan dirimu padaku?”
Meleleh pula air mata Pap bebarengan dengan kalimat yang baru ia ucapkan. Kekecewaan tersirat sungguh dalam. Kekecewaan pada sikap gadis yang ia cintai. Perasaan itu yang selama ini ia tutupi dengan sedikit kesalahan Gui.
* * *
“Kami mengerti perasaanmu….”
Pap memeluk kedua sahabat yang telah ia jadikan saudara ini.
“Terima kasih Gui, terima kasih, Sing.”
Gui hanya menatap Pap.
“Pap, kamu tidak boleh memaksakan perasaan Bio padamu. Aku tahu, begitu dalam cintamu kepadanya. Namun engkau harus sabar,…”
Sing mengajukan advice.
“Iya. Aku bisa menerima itu. Hanya saja, aku begitu sakit hati. Kini rasanya ia menjauhiku.”
“Sabarlah, brother.”
Pap tertunduk lesu. Matanya sayu.
“Aku minta maaf tidak datang pada acara penghargaan itu, Pap.”
Gui menyodorkan tangan kanannya.
“Sudahlah, Gui. Aku hanya membohongi diriku dengan marah padamu. Seharusnya Aku yang meminta maaf, karena mengkambing hitamkan-mu..”
“Aku tidak mau jadi kambing hitam.”
“Iya. Maafkan aku.”
“Tidak.”
“Maksudmu?”
“Aku mau jadi domba putih saja.”
Ah, Gui. Di saat seperti ini, bisa saja bercanda. Ia mencoba menyegarkan suasana.
“Bukannya kamu monyet? Kok ngaku-ngaku domba putih?”
“ha… ha……”
Kini ketiganya saling mengejek dan tergelak sendiri. Tawa itu menghiburkan Pap.
* * *
“Pap, aku mau cerita, nih.”
“Aku dengarkan, Bio.”
Bio mengalunkan curahan hatinya mengenai teman-teman kampus.
Sementara Pap heran. Tidak biasanya setelah beberapa minggu terakhir, Bio kembali membuka dirinya.
‘Tuhan, dekatkan aku terus dengan Bio. Sungguh dalam cintaku padanya. Suatu saat aku akan berani ungkapkan ini….’
Pap membisikkan itu pada Tuhan. Lirih sekali, dalam sudut hatinya.
(*my beloved. Luv u
Leave a Comment so far
Leave a comment