Pap Gui Sing Stories


Idola Bujang Lapuk
September 12, 2008, 1:47 am
Filed under: Uncategorized

 

 

 

“Haaa…?!!” mata Pap terbelalak mendengar cerita Sing.

“Kamu aja kaget, apalagi aku?” Sing menggeleng sambil memencet bel rumah Gui. Sesaat perempuan tengah baya keluar dan keduanya dipersilahkan masuk.

Pap terbahak-bahak ketika membuka kamar Gui. Cowok jabrik ini memandanginya dengan aneh. Sing, gadis kuning langsat itu terduduk di kursi belajar Gui.

“Hem…! Ada yang lucu?” tanya Gui sambil melanjutkan permainan Playstation-nya.

“Gui! Sing dapat jatah para tetua?”

“LAGI?!?!” Gui terhentak.

Kini kedua cowok ini terbahak.

“HUH?! Apa aku lakunya cuman di pasar para tetua, ya?”

Gui dan Pap makin terbahak melihat ekspresi melo Sing. Kali ini dia mencibir.

* * *

Mentari pagi ini tidak bersahabat. Mendung juga meliputi ketiga karib; Sing, Pap dan Gui. Di bawah sepoi angin mereka duduk makan dan berdiskusi.

“Aku mengerti kok, keadaanmu. Tetapi, bagaimanapun kamu punya hak untuk memilih yang terbaik.” Pap memberi saran.

Kini Sing merenung. Dilema besar meliputi hati dan bertaut terus dalam dirinya. Sudah berkali-kali ia didekati para lelaki yang selalu jauh lebih tua usianya darinya. Berkali-kali dan kini terulang lagi setelah sebelumnya ia menolak semua. Sebenarnya mudah kalau menerima pinangan para pria berumur itu. Namun, ia sudah kadung janji pada orang tuanya untuk tidak menjalin hubungan dulu dengan pria manapun sampai kuliahnya kelar.

“Sing. Kamu punya perasaan gak sama Ardi?” pertanyaan Gui dalam.

“Entah.” Keraguan Sing memberi jawab.

Ardi. Sepuluh tahun usianya lebih tua dari Sing. Meski ia baik, namun usia tetap jadi soal. Ardi pasti sudah berpikir mengenai pernikahan dan keluarga. Sedang Sing masih 20 tahun. Lulus Sarjana dan melanjutkan gelar Master, itu impian yang harus ia wujudkan.

“Apapun pilihanmu, kami akan mendukung. Kami yakin kamu akan memikirkan masak sebelum mengambil keputusan.” dukungan Gui benar-benar membuat Sing kuat.

* * *

Sing berjalan mantab. Pandanganya menerawang jauh dan keputusan bulat sudah ia genggam. Mungkin rasa tidak ingin membuat kedua ortu-nya kecewa lebih besar ketimbang keinginannnya untuk berpacaran. Hari inilah saat yang tepat untuk memberi pertimbangan kepada Ardi.

“Hai!” sapaan pria berbadan tegap itu membuat Sing sedikit ragu.

“Tahu enggak? Hari ini aku sibuuuk…. Pegawai-pegawaiku semua kuberi tugas….” Ardi terus bercerita mengenai job-nya. Namun Sing tidak tenggelam sama sekali.

Di dalam hati Sing terasa kecut. Ia tidak ingin membuat Ardi kecewa.

“Ardi…” Sing memberanikan mengawali kalimat.

“Ya? Mau makan apa, gadis cilik?” ia masih mengekeh.

“Sebenarnya kita hanya teman, kan?” Sing mencoba menatap mata Ardi.

 “Lalu?”

“Yah… Kita… hanya TEMAN, kan?” Sing mempertegas.

“Jadi, kamu sudah memutuskan kalau…” Ardi langsung jadi serius.

Kali ini Sing jadi sungkan bukan main.

“Itu keputusanmu, Sing?”

Sing mengangguk pelan dan sepertinya Ardi dapat memahami itu.

* * *

“Kamu yakin kalu Ardi bisa paham, Sing?” Pap mencoba menelusuri.

“Aku sudah jelasin semua, Pap.”

Gui hanya diam sambil menikmati pudding di tangannya.

“Yes! Sekarang kamu bisa bebas… ha.ha..ha….” Pap meloncat girang.

“Berlebihan, Pap!” Gui geleng-geleng kepala melirik tingkah kawan karibnya itu.

“Aku cuman seneng aja. Mulai sekarang wajahmu akan kembali bersinar, Sing. Tidak penuh beban…” teriak Pap sambil merebut pudding di tangan Gui.

“Hei, puddingku!”

“Minta dikit.”

“Enak aja! Kembalikan pudding-ku..”

Sing kini tertawa melihat kedua cowok itu. Selalu saja bertengkar…

Pap benar. Begitu pikir Sing. Kini ia tidak perlu takut lagi setiap saat. Sebenarnya bukan Sing saja yang didekati oleh Ardi. Teman kuliahnya; Wati, Far, Suni dan Dyah juga. Ardi mengakui semua pada Sing tapi tidak kepada keempaat cewek itu. Sing juga tak tahu, kenapa Ardi begitu jujur kepadanya.

“Yang benar saja?! Bukan pria baik-baik itu namanya?!” Gui naik pitam kala itu.

“Kalau mendekati wanita, yang konsisten dong! Masa kelima-limanya?! Itu namanya cowok pengecut!!!” protes Pap tak kalah tajamnya saat Sing bercerita kepada kedua karibnya waktu itu.

Sing kini menghela napas sambil meneruskan lamunannya. Masa-masa saat ia masih didekati Ardi. Sebenarnya ia pria baik-baik. (Sing selalu membelanya).

Ia paham, kalau Ardi melakukan itu karena ia ingin segera mempunyai pendamping. Sing juga tak tahu kebetulan saja cewek-cewek yang didekati Ardi sekampus dengan dia. Keempatnya jauh lebih cantik, lebih popular dan lebih yang lain-lain jika dibanding dengan dirinya. Begitu pikir Sing.

Wati. Mahasiswi semester akhir ini cerdas dan berprestasi.

Far. Model catwalk yang jadi idola.

Suni. Gadis keturunan India yang jago menari dan menyanyi.

Dyah. Cantik dan sexy.

Fiuh….

Sementara dirinya? Kurus ceking. Pendek. Tidak menarik. Baru dua puluh tahun. Ingusan.

Menurut Ardi, Sing berbeda dari gadis-gadis yang lain. Ia idealis, tegas dan punya pendirian kuat. Sing selalu ramah kepada semua orang dan perhatian. Satu lagi, persahabatan Sing dengan kedua cowok yang tak kalah ingusan; Gui dan Pap. Ini yang bikin iri Ardi. Ketiganya selalu kompak, saling berbagi, saling mengolok, saling mengejek dan tertawa tiada henti. Masa-masa ingusan yang membuat Ardi sangat terkesan.

Pernah Ardi jalan-jalan bareng mereka. Alhasil ia tak berhenti tertawa karena Pap dan Gui terus bertengkar dan mengolok. Sing pun selalu menggoda keduanya. Namun Sing merasa, Ardi hanya menjadi penonton dan tidak bisa masuk dalam komunitas itu.

Namun kini Sing memang harus benar-benar berpikir seribu kali lipat kalau menerima cinta Ardi. Ia belum siap untuk berpikir tentang keluarga dan perkawinan. Meski Ardi mau menunggu Sing jadi Sarjana dan juga selesai gelar S2.

“Seperti Edi sud dan Itje Trisnawati, dong?” goda Pap pada Sing dulu.

Sing tertawa kecil. Kini ia juga jadi ingat pria-pria lain yang pernah mendekatinya.

Sam. 7 tahun lebih tua. Insinyur muda yang baru meniti karier.

Rudi. 9 tahun di atas usia Sing. Pegawai swasta, menaruh hati yang dalam pada Sing.

Tarjo. 32 tahun. Bujang lapuk yang iseng. Tentu Sing menolak mentah-mentah.

David. 28 tahun. Sing begitu tergila-gila padanya. Tapi, David dingin-dingin saja.

Martin. 24 tahun. Sing sempat menjalin kasih dengannya. Mereka harus putus di bulan kedua belas, karena pacaran ‘backstreet’ mereka ketahuan ortu Sing.

Fiuh….

Sing menghela napas lagi. Mengapa semua cowok itu tidak ada yang pas buatnya. Ia begitu merindukan seorang kekasih impian. Entah se-usia atau …. Oh, tidak?! Apakah harus yang lebih tua lagi? Gumam Sing.

“Sing…..!!!” teriakan Pap membuat ia terbangun dari lamunan.

“Ada Ivan di bawah…” Gui melanjutkan.

“Kok dia tahu rumahmu, Gui?”

Sing lalu melesat turun ke ruang tamu rumah Gui.

* * *

“Haloo..” sapa Ivan.

Keduanya ngobrol panjang lebar selama sejam. Memang mereka telah lama kenal karena Ivan adalah teman kakak Sing.

“Sing, boleh aku jadi kekasihmu?” pernyataan Ivan yang tiba-tiba itu membelalakkan mata Sing.

“Gui……! Pap…..! Apa aku Cuma laku di pasar para tetua?!?!” teriak Sing pada kedua karibnya. Pap dan Gui terpingkal-pingkal melihat Sing merengek.

 

 (*never ending our frenZhip; thx BiKan & Nyet)

 


Leave a Comment so far
Leave a comment



Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s



Follow

Get every new post delivered to your Inbox.