Filed under: Uncategorized
“Aku sudah buat Li sedih.”
Gui mengutarakan isi hatinya pada Pap.
Hanya gelengan kepala Pap yang merespon Gui.
“Kamu betul, Pap. Aku mengulangi kesalahan yang sama.”
“Lupa menelpon, tidak balas SMS,…. Yah! You did it,… AGAIN.”
“Tapi kali ini aku memang benar-benar telah lelah sekali. Banyak tugas yang aku kerjakan, aku pulang malam dan berangkat pagi terus, Pap.”
“Yes. I know, brother…”
“Kamu tahu kan, Pap. Bukan berarti aku tidak mencintai Li lagi, kan?”
Pap hanya diam. Ia menyediakan telinga bagi keluh kesah Gui. Seperti yang selalu dilakukan brother–nya ini padanya.
* * *
“Gui terlalu cuek, Pap.”
“Wanita memang butuh diperhatikan terus…”
“Huh! Enak saja. Para pria juga tak akan sanggup hidup tanpa wanita.”
Pap mengekeh mendengar pembelaan Sing. Seperti pembela wanita sejati saja.
“Gui sudah cerita, Sing. Ia banyak tugas dan pulang malam terus.”
“Li juga sudah e-mail aku. Ia sangat merindukan Gui. Bayangkan, Pap : Sudah 2 minggu e-mail Li tidak dibalas Gui.”
Pap hanya mengangkat bahu. Sebenarnya keduanya memang sama-sama tahu watak Gui. Ia tidak akan bisa melepaskan Li, kekasihnya. Cintanya begitu dalam. Namun kebiasaan Gui untuk menyepelekan hal kecil itulah yang tidak pernah bisa dimengerti oleh kedua sobatnya ini. Mengapa Gui tidak berusaha untuk merubah? Pikir Pap dan Sing.
“….menurutku, mengirim e-mail untuk seseorang yang ia cintai bukan hal kecil. Apalagi mereka harus berpacaran jarak jauh???”
“Aku mengerti perasaan Gui, namun aku akan mencoba mengerti perasaan para wanita juga.”
Kalau sudah begini Pap akan kebingungan sendiri. Sing tentu akan membela Li, karena ia pasti tahu betul perasaannya sebagai seorang wanita. Sedangkan Pap juga tahu perasan Gui. Namun ia juga sadar kalau Gui salah. Meski begitu ia tak mau menuding Gui salah.
“Aduh bingung aku, Sing!!”
Sekarang Sing yang menggelengkan kepala melihat sikap Pap.
* * *
Sodokan Gui begitu mantap. Bola Bilyard itu satu per satu menghampiri lubang-lubang meja. Gui menguasai permainan malam ini. Namun ia tidak bisa menguasai hatinya. Ia masih memikirkan cara meminta maaf pada Li untuk kesalahan yang telah diperbuatnya.
“Permainanmu HEBAT, Gui!”
Sanjungan itu hanya dibalas dengan senyuman oleh Gui.
“Ini minuman soda untukmu, karena kau menang.”
“Ambil kembali saja. Aku sedang tidak berminat.”
“Mau kemana, kau?”
“Pulang. Aku lelah sekali.”
“Haa..ha…. Masa main 3 jam saja lelah?”
Ejekan atau tantangan, itu tak penting lagi buat Gui. Ia ingin segera melesat pulang ke rumah menghampiri ranjangnya dan menelpon Tuhan.
* * *
“Engkau tahu usaha-ku kan, Tuhan? Usahaku untuk mempertahankan hubunganku dengan Li….”
Ia duduk dengan tangan melipat dan guling yang mengalasi kedua sikunya. Beginilah cara Gui menelpon Tuhan. Ia tutup mata rapat-rapat. Buka hati lebar-lebar. Mencurahkan semua keluhnya pada Tuhan. Sebuah kekesalan yang terjadi akibat dirinya sendiri.
“Ya. Ya. Aku tahu. Bukan usahaku, Tuhan. Tetapi anugerah-MU yang luar biasa. Bukan sebuah kebetulan kalau aku bisa menjejakkan kakiku di tanah Ratu Elizabeth tahun lalu. Aku bisa bertemu Li dan mendekapnya erat-erat.”
Terlintas pada memorinya beberapa saat. Li memandang wajah Gui dalam-dalam kala itu. Kala mereka dapat hadiah untuk bertemu tahun lalu.
“Tuhan, kenapa Li sampai sekarang belum pulang dari Inggris?”
“Kenapa, Engkau memberikanku hubungan yang seperti ini? Long distance. OH, GOD! Kenapa tidak biasa-biasa saja seperti pasangan-pasangan yang lain? Tidak terpisah benua dan samudera.”
Kali ini Gui benar-benar terdiam. Ia mendekap gulingnya erat-erat. Gui berusaha merenungkan kembali protes yang baru ia layangkan pada Sang Khalik. Apa benar Tuhan itu tidak adil padanya? Apa benar hadiah ke Inggris tahun lalu itu malah membuatnya kecewa?
Ia terus diam. Hanya diam. Sampai pada satu titik.
“Oh, Tuhan…….. Sebenarnya anak-Mu ini sungguh beruntung. Aku cabut kembali kata-kataku tadi. Sampai detik ini aku masih punya hubungan baik dengan Li, ini adalah luar biasa. Engkau sendiri yang telah memeliharanya. Aku jadi lebih spesial karena tidak banyak pasangan yang kuat dengan hubungan ‘long distance’. Tetapi Engkau buat aku untuk terus setia dengan Li begitu pula dia, Tuhan. Engkau LUAR BIASA…….!!!! Thank YOU”
Gui menutup telponnya dengan Tuhan. Ia tidur dengan perasaan lega.
* * *
Mentari tidak lagi berkacamata hitam hari ini. Sinarnya cerah dan teriknya hangat. Semilir angin pun mengiring Gui memasuki mobilnya. Ia melajukan keluar dari halaman rumah. Gui memberikan senyum kepada dirinya sendiri di depan kaca. Semua menyiratkan kebahagiaan, sebuah rasa syukur yang tak terkira.
Musik sukacita seakan berdentum keras di dalam mobil bermuatan 5 orang ini. Belum lagi suara Gui yang mengikuti nada-nada. Seakan jok mobil, AC, CD Player dan semua perangkat turut menari. Tarian hati yang bahagia bagi Gui hari ini.
“Orang yang lahir 1000 tahun sekali telah datang…!”
Pap dan Sing menengadahkan kepala. Seringai senyum hampir mendekati tawa lebar mereka lihat dalam guratan wajah Gui.
“Wow! Praise the Lord!”
Kali ini Pap dan Sing saling berpandangan.
Bukan tidak mungkin seorang Gui seceria hari ini. Namun kini ia memuji-muji Nama Tuhan. Tampaknya pergumulan Gui dengan masalah itu telah usai. Yup! Itulah hasil pemikiran Pap dan Sing.
“Monyet bodoh, kau ceria sekallii hari ini!”
“Tentu saja, burung Pelikan!”
Wah, ajang saling mengejek mulai berlangsung antara Gui dan Pap. Sementara Sing kembali menikmati bebek goreng yang sempat ia tinggalkan saat Gui datang. Bagi Sing ia turut saja saat sobatnya bersukacita.
“Sudah baik hubunganmu dengan Li?”
“Menurutmu, Sing?”
“I think so.”
“Pasti Li yang mengalah. Ia e-mail kamu dulu, kan?” ejek Pap.
“Enak saja. Kalau soal ‘cinta’, serahkan pada Gui! Anak…..”
“….seribu tahun sekali lahirnya….”
Pap dan Sing sudah tahu kelanjutan kalimat Gui. Ia selalu menyebut dirinya demikian. Bangga pada diri sendiri sih, boleh. Tetapi bagaimana menurut kalian jika manusia ini menyebut diri lahir seribu tahun sekali?
“Yang jelas aku : BERSYUKUR. Ini LUAR BIASA…!!!!”
Semangat menyala-nyala tersirat di wajah Gui. Ia menceritakan panjang lebar apa yang telah ia alami. Penyesalannya, telponnya dengan Tuhan sampai bagaimana ia mensyukuri sesuatu yang Luar Biasa yang telah ia terima dan syukuri.
“Bagus! Omong-omong berapa nomor telpon Tuhan? Aku mau dong….”
“Lipatlah tanganmu, pejamkan matamu, katakan apa yang kau syukuri dan apa yang kau rasakan dalam hati. Tuhan begitu mencintaimu…”
Cinta yang dari Tuhanlah yang membuat Gui bersemangat. Cinta itu mengalir sampai ke jiwa dan memberikan sentuhan persaudaraan pada persahabatan mereka. Cinta Tuhan yang luar biasa! Cinta sejati itu yang mendasari hubungan Gui dan Li hingga hari ini. Sebuah rasa syukur yang tak lekang oleh waktu. (Remember: that the Lord is WONDERFULL for you*)
Leave a Comment so far
Leave a comment